Selayang Pandang Serangga yang Bisa Menjadi Makanan Berprotein Tinggi

 

Susanti Mugi Lestari

 

Serangga merupakan hewan yang paling dominan jika dibandingkan dengan hewan lain di bumi. Secara umum, manusia menganggap serangga sebagai makhluk yang membahayakan dan tidak ada manfaatnya. Banyak serangga yang menjadi hama pertanian maupun hama pemukiman. Manusia mengalami kesulitan dalam mengendalikan populasi serangga yang terus bertambah dan berkembang sangat cepat.

Salah satu cara pemanfaatan serangga yang cukup unik adalah dengan memanfaatkannya sebagai makanan. Di Asia Timur yaitu di China, Jepang, Korea, dan Taiwan diketahui sekitar 66 spesies yang termasuk dalam 47 genus, 38 famili dan 13 ordo serangga yang dijadikan sebagai makanan. Ordo-ordo tersebut antara lain Coleoptera, Diptera, Ephemeroptera, Hemiptera, Homoptera, Hymenoptera, Isoptera, Lepidoptera, Mantodea, Odonata, Orthoptera, Plecoptera, dan Trichoptera (Anonim 1995).

Serangga yang banyak dimanfaatkan sebagai makanan adalah belalang. Walaupun di beberapa negara, serangga dianggap sebagai makanan yang menjijikan termasuk di Indonesia. Namun, bila ditilik lebih lanjut ternyata kandungan protein pada tepung belalang Oxya sp. adalah 73.9% 20 g sampel. Sedangkan tepung belalang Valanga sp. mengandung protein sebesar 77.5% per 20 g sampel (Sawal et al. 2004). Selain itu, penelitian Sutrisno Koswara seorang Staf pengajar Ilmu dan teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor menunjukkan bahwa kandungan protein pada belalang adalah 40% sampai 60% dan kandungan lemak 10% sampai 15% per gram (Koswara 1999). Kandungan tersebut cukup tinggi bila dibandingkan dengan kandungan protein pada makanan berprotein lain seperti udang segar (21%), daging sapi (18,8%), daging ayam (18,2%), telur ayam (12,8%), dan susu segar sapi yang hanya (3,2%) kandungan proteinnya (Eddy 2006).

Bila ditilik dari sisi agama, para ulama menjelaskan, boleh memakan belalang walau sudah menjadi bangkai. Binatang ini halal sebagaimana terdapat dalil dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,


أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ



 Kami dihalalkan dua bangkai dan darah. Adapun dua bangkai tersebut adalah ikan dan belalang. Sedangkan dua darah tersebut adalah hati dan limpa.”  (HR. Ahmad 2:97 dan Ibnu Majah no. 3314. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Belalang yang akan dikonsumsi jika mati dengan sendirinya, maka belalang tersebut halal dimakan sehingga tidak butuh penyembelihan khusus karena bangkainya saja suci.  Imam Nawawi berkata:


ويحل السمك والجراد من غير ذكاة


Ikan dan belalang itu halal dimakan walau tidak lewat proses penyembelihan.”

Lalu beliau rahimahullah berkata, “Dan tidak mungkin berdasarkan kebiasaan untuk menyembelih ikan dan belalang, maka penyembelihan keduanya tidak diperlukan.” (Al Majmu’, 9: 72) (Tuasikal MA 2011)

Di Indonesia tepatnya di Kecamatan Wonosari, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta belalang merupakan makanan khas yang biasa di konsumsi. Selain di Gunungkidul, daerah lain di Indonesia yang biasa mengonsumsi belalang sebagai makanan sehari-hari adalah Pacitan, Wonogiri, Klaten, dan Nusa Tenggara (Anonim 2011).

Belalang tidak hanya diolah sebagai makanan yang digoreng atau dibacem, tetapi bisa juga menjadi mie. Mie belalang yang diolah oleh mahasiswa Fakultas MIPA dan Fakultas Ilmu Sosial Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) tersebut merupakan mie basah yang disajikan seperti mie ayam maupun mie basah lainnya (Lena 2010). Selain itu, Sawal et al. (2004) mengolah tepung belalang menjadi gorengan (rempeyek) dan kuliner yang tidak asing di lidah orang Indonesia yaitu bakso.

Di Ethiopia, belalang ditumbuk dan direbus dengan susu, atau dikeringkan dan digiling menjadi tepung. Tepung belalang ini kemudian dicampur dengan minyak sayur dan dipanggang sehingga menghasilkan makanan sejenis cake (Koswara 1999).

Di belahan dunia lain yaitu di Thailand, Mexico, Uganda dan beberapa negara Afrika dan Timur Tengah belalang biasa dimakan sebagai snack (Anonim 2011). Di Zimbabwe, belalang yang telah direbus kemudian dikeringkan. Belalang tersebut lalu dimasak dengan bawang merah, tomat dan hancuran kacang tanah berbumbu (Koswara 1999). Sementara itu, di Australia tepatnya di Victoria belalang disajikan sebagai menu yang sangat unik yaitu disajikan dalam bentuk pizza (Anonim 2011).

Namun, perilaku konsumsi belalang maupun serangga secara umum haruslah berhati-hati karena dapat menimbulkan alergi pada konsumennya. Alergi ini timbul karena kandungan protein yang tinggi di dalam serangga.

Foto aneka menu olahan belalang:

       

             Pizza belalang ala Victoria (http://haxims.blogspot.com)                Belalang goreng (http://haxims.blogspot.com)

 

          

               Mie belalang (http://www.uny.ac.id)                                                Penjual belalang (http://haxims.blogspot.com)

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim. 1995.  Eastern asia: china, japan, other countries. http://www.foodinsects.com/book7_31/Chapter%2026%20Eastern%20Asia.htm [16 Januari 2012].

Anonim. 2011. Lezatnya menu belalang goreng masakan khas Indonesia. http://ceritaunik.info/2011/09/lezatnya-menu-belalang-goreng-masakan-khas-indonesia/ [16 Januari 2012].

Eddy. 2006. Semanu: Desa Belalang Penghasil Protein Tinggi [16 Januari 2012].

Koswara S. 1999. Serangga sebagai bahan makanan. http://www.smallcrab.com/kesehatan/283-serangga-sebagai-bahan-makanan [16 Januari 2012].

Lena. 2010. Mengolah belalang menjadi mie. http://www.uny.ac.id/berita/uny/mengolah-belalang-menjadi-mie [16 Januari 2012].

Sawal A, Damayanti, Sugeru H. 2004. Tepung belalang padi (Oxya sp.) sebagai sumber pangan alternatif berprotein tinggi. Program Kreativitas Mahasiswa. Institut Pertanian Bogor.

Tuasikal MA. 2011. Halalkah belalang?. Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat Rumaysho.com. http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3627-halalkah-belalang.html [16 Januari 2012].

http://haxims.blogspot.com [17 Januari 2012]

http://www.uny.ac.id

 

 

Tulisan ini diikutkan dalam Lomba Artikel Populer “All About Insect” 2012. Penulis adalah Alumni Departemen Proteksi Tanaman IPB



Page 1 of 37