Lucy, Mengubah Wabah Menjadi Anugerah
Oleh : Aisyah Fad

      Hawa panas nan lembab mengundang Lucy berdansa. Jika Anda menangkapnya dan meletakkan di bawah mikroskop, akan tampak sayap bertumpuk hijau tipis, memantulkan aura air dan kaca, mempesona! Siapakah dia? Bukan! Lucy bukan kupu-kupu hijau, Lucy adalah Lucilia sericata atau Lalat hijau.

      Masih ingatkah Anda dampak letusan Gunung Merapi? Ribuan mayat sapi dan kerbau terapung di sungai, hingga serbuan ribuan Lucilia pun tak terelakkan, tidak hanya pada bangkai, tetapi juga puing-puing serta pepohonan. Upaya penyemprotan yang dilakukan berkali-kali oleh BBTKL-PPM (Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular) juga tidak banyak berpengaruh. Hingga pembakaran bangkai dilakukan oleh berbagai lembaga dan sukarelawan.

      Serbuan Lucilia cukup meresahkan. Di Padang, sejak tahun 2007 ribuan ekor Lucilia sudah menyerbu penduduk Kecamatan Payakumbuh Timur. Demikan juga di Kecamatan Tegalwaru Karawang. Bahkan, di Propinsi Jambi, pada tahun 2011, Lucilia menyerang empat desa sekaligus, Desa Bernai, Desa Bernai Dalam, Desa Sungai Baung dan Desa Sungai Abang. Dan di Ciamis Desember 2011, diare telah merenggut tiga nyawa.

     Tidak hanya di Indonesia, Lucilia cukup legendaris di dunia, terbukti dengan adanya lebih dari 100 nama disematkan oleh para ilmuwan sejak tahun 1826 hingga 1988 mulai dari Musca nobilis (Meigen) hingga L. frontalis (Brauer & Bergenstamm). Di luar negeri, Lucilia tercatat menyerang domba di Australia dan Inggris. Berdasar identifikasi larva oleh Dr M.S.Mossadegh, dari Shahid Chamran University, Ahwaz Iran. Lucilia telah mampu menularkan miasis pada pasien sehat. Miasis adalah infeksi yang disebabkan serangan lalat. Kasus ini adalah yang pertama di dunia, dan sangat berbahaya.

Mengapa tidak dimusnahkan saja?

Selalu ada rotasi yang membentuk keseimbangan, antara manfaat dan dampak yang ditimbulkan, tidak hanya berhenti pada perputaran rantai makanan antara predator dan produsen. Lucilia juga memiliki banyak manfaat . Dan manusia tak bisa memungkiri jasa itu

1. Lucy Si Pemberi Jejak

     Karena siklus hidup yang selalu sama dalam habitat tertentu. Dengan sifatnya sebagai first predator pada mayat, maka keberadaan larva Lucilia yang berbentuk kerucut keabu-abuan dapat memberikan petunjuk mengenai umur minimun mayat. Jika didapatkan telur Lucilia yang telah menetas menjadi instar atau belatung berusia lima hari, maka diperkirakan usia minimum kematian adalah lima hari. Sedang kematian yang sesungguhnya bisa enam atau tujuh hari.

     Tidak hanya itu, Lucilia yang seluruh siklus reproduksinya menghasilkan 130-172 telur ini, menyukai daerah luka, dengan sifat itu, maka koloni Lucilia tertua juga sering dijadikan petunjuk cara kematian mayat. Misalnya ketika didapatkan umur koloni Lucilia tertua pada daerah dada dengan perbedaan yang signifikan dari daerah lain, maka diduga sebelum kematian terdapat luka di daerah tersebut.

2. Lucy Sang Penyembuh Luka

Terapi Lucilia bisa menjadi alternatif bagi penderita penyakit gula dengan luka menahun, pada penderita alergi terhadap antibiotik, juga penderita penyakit arteri yang terganggu sirkulasi darah pada tangan dan kaki.

     Dr Lawrence Eron dari Kaiser Hospital dan University of Hawaii di Honolulu, seperti dikutip Reuters, Senin (26/9/2011). Telah berhasil melakukan debridement (mengangkat jaringan terinfeksi atau mati) menggunakan belatung Lucilia Dr Eron mengurung sekitar 50-100 belatung Lucilia dalam jala nilon lalu mengikatnya supaya tidak keluar, kemudian meletakannya pada luka selama dua hari. Prosedur yang sama diulangi hingga lima kali. Dari 37 pasien yang diuji, 21 pasien sembuh secara memuaskan, jaringan mati terhapus total, terbentuk jaringan baru yang kuat, sedang luka lebih dari ¾ bagian telah menutup .

     Peran Lucilia adalah memakan jaringan mati hingga bersih, kemudian mengeluarkan agregat yang mampu merangsang timbulnya jaringan baru yang lebih kuat. Menakjubkan!

3. Lucilia sebagai Mesin Pencetak Uang

Selain berbagai kegunaan dalam disiplin ilmu kedokteran, Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Mulyoagung Kecamatan Dau, Kabupaten Malang telah berhasil membuktikan kemampuan Lucilia mencetak uang. Belatung-belatung Lucilia diambil dan dimasukkan ke dalam kolam sebagai makanan ikan Nila, Lele dan Gurame. Hasilnya? Ikan-ikan menjadi kaya protein dan lebih lezat.

     Masyarakat yang sebelumnya memprotes kehadiran TPAS (Tempat Pembuangan Akhir Sampah), berbalik berharap TPAS bisa menampung sampah-sampah dari luar. Disamping itu TPAS Mulyoagung, menjadi bebas Lucilia tampak bersih, tertata dan bau menyengat pun jauh berkurang.

Bagaimana caranya? Dengan memutus mata rantai daur hidup Lucilia

      Diperlukan kecepatan pengumpulan belatung. Dalam ilmu entomologi belatung disebut larva, yang perkembangannya (pada suhu 27°C) melewati 3 masa instar larva, masa instar pertama 31 jam, masa instar kedua 12 jam dan masa instar ketiga 40 jam total masa instar kurang lebih 4 hingga 5 hari tergantung suhu. Sehingga pengambilan belatung harus diambil pada masa ini (maksimal 5 hari) karena setelah melewati masa larva akan turun ke tanah menjadi kepompong selama 6-14 hari. Dan kemudian berubah menjadi Lucilia dewasa. Jadi jika terlambat pengambilan larva, maka Lucilia pun akan beterbangan.

Larva-larva tersebut diambil dan dimasukkan ke dalam kolam sebagai makanan ikan Nila, Lele dan Gurame. Hasilnya? Ikan-ikan menjadi kaya protein dan lebih lezat.

Menjijikkan! Mengapa harus belatung Lucilia sebagai pakan ikan? Inilah alasannya :

  1. Ramah lingkungan dan penghematan. Memanfaatkan belatung Lucilia, berarti mengurangi pemakaian dan dampak residu pestisida, sekaligus penghematan.
  2. Belatung Lucilia kaya protein dan tahan jamur. Sudah bukan rahasia lagi belatung mempunyai kadar protein tinggi, jika ampas tahu mempunyai kandungan protein 15%, sedangkan PKM (Palem Korneal Meal) 18%. Maka belatung Lucilia mempunyai kandungan protein 42%
  3. Anti mikroba atau jamur. Belatung memiliki kandungan anti mikroba dan anti jamur, sehingga jika dikonsumsi ikan, ikan tsb akan tahan terhadap penyakit bacterial dan jamur.


      Berdasar penelitian oleh Universitas Colorado di Amerika (Republika Online). Lalat mempunyai bateriofag. Bakteriofag adalah virus yang menyerang virus atau bakteri lain. Sedang dilakukan penelitian terhadap bateriofag ini, untuk mengatasi bakteri yang telah resisten (kebal) dengan antibiotik yang telah ada.

Mengubah Wabah Menjadi Anugerah

      Sebuah lapangan pekerjaan baru akan terbuka lebar, jika apa yang diterapkan pada TPAS Malang, mampu diterapkan pada TPAS seluruh Indonesia, termasuk juga pada peternakan sumber wabah Lucilia.

     Tentu saja untuk Peternakan harus diadakan penelitian lebih lanjut. Beberapa konsep harus dimodifikasi, misalnya Lucilia dirangsang untuk meletakkan telur tidak pada kotoran, melainkan pada media kultur buatan misalnya fermentasi PKM atau kultur lain. Karena bagaimanapun kotoran adalah kotoran.

     Selalu ada sisi baik dan sisi buruk dalam kehidupan, selalu ada obat bagi setiap penyakit, tetapi setiap pergeseran keseimbangan menimbulkan masalah baru.

     Pertanyaannya: Ketika akhirnya manusia berhasil mengurangi populsi Lucilia dengan memutus siklus daur hidup secara konsisten, apakah Lucilia juga akan menghilang? Wallahu alam.

Aisyah Fad adalah penulis yang tergabung dalam grup Ibu-Ibu Doyan Nulis, saat ini tinggal di Makassar. Penulis bisa dihubungi di This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

Pestisida, Perlukah?
Oleh : Umi Khasanah


     Kerja keras suami saya selama beberapa bulan terakhir mulai menampakkan hasil. Bulir-bulir padi yang dulu disemai,ditanam, diairi, dipupuk,disiangi dan disemprot kini nampak berisi. Melihat daun padi yang hijau segar dan bulir-bulir nan bernas, rasanya semua jerih payah hanya tinggal kenangan semata.
     “Kalau panen, kita bisa membayar hutang yang selama ini digunakan untuk biaya bercocok tanam. Kelebihannya bisa kita gunakan untuk makan sehari-hari,” demikian rencananya.
     Saat itu televisi sedang gencar memberitakan hama wereng yang tengah menyerang padi di berbagai daerah di Jawa Timur. Rasanya bencana tersebut terjadi di negeri yang jauh meski sebenarnya kami juga tinggal di Jawa Timur. Sedikit pun tidak ada kekhawatiran, karena saya tahu, suami saya telah menggunakan cukup pestisida untuk mengantisipasi serangga yang bakal mencuri hasil kerja kerasnya.
     Sampai suatu sore, ia pulang membawa berita. Kakak kami telah membakar padinya yang hampir siap panen karena terserang wereng.
     “Tindakan tersebut hanya merugikan saja,” katanya. “Karena wereng akan berpindah ke tanaman padi yang terdekat. Kulihat tanaman padi kita juga mulai didatangi satu dua wereng batang.”
               “Lalu apa yang mesti kita lakukan?” tanyaku mulai merasa khawatir.

               “Beberapa petani menyemprot kembali padinya dengan pestisida,” jawabnya.
               “Mungkin kita juga perlu melakukannya. Tak apalah menambah biaya sedikit asal      tanaman padi kita aman,” saranku.
               “Di saat seperti ini, bahkan satu drum pestisida pun tidak akan membantu.”

     Suami saya lalu memutuskan untuk memanen padi kami lebih awal. Hal itu secara otomatis menurunkan hasil panen secara drastis. Tapi memang tidak ada jalan lain. Sehingga kami mesti puas mendapat satu setengah kwintal padi dari delapan kwintal yang diharapkan. Padi tersebut kemudian dibagi dua. Setengah diberikan kepada para pekerja yang membantu panen. Setengahnya lagi menjadi bagian kami. Setelah 75 kg padi basah tersebut dikeringkan dan digiling hasilnya tinggal beberapa kilogram beras saja. Jangankan untuk makan sehari-hari. Untuk menutupi biaya produksi saja rasanya mustahil.
     Sejak panen kami gagal gara-gara serangan hama wereng itu saya jadi sering bertanya. Serangga macam apakah wereng itu? Mengapa ia begitu ganas dan mampu menimbulkan kerusakan dalam waktu yang singkat? Mengapa akhir-akhir ini wereng begitu merajalela? Padahal para petani telah menggunakan pestisida yang terkenal ampuh membasmi serangga.
     Rupanya wereng hanyalah serangga kecil saja.Wereng batang berwarna putih dan dikenal paling ganas. Wereng jenis ini merusak dengan cara menghisap batang padi sekaligus menyebabkan bulir padi muda jadi tinggal kulit belaka. Parahnya, jumlah wereng tidak hanya ratusan, atau ribuan, tapi jutaan dan penyebarannya sangat cepat.
     Tanaman padi yang telah diserang wereng, kemudian menjadi kecokelatan karena kering. Kalau anda melewati areal persawahan yang menguning padahal daunnya masih tegak, itu berarti padi tersebut telah terserang wereng. Jika sudah demikian, tingkat kegagalan panen bisa mencapai seratus persen.
     Lalu apa kerja pestisida selama ini? Bukankah pestisida yang selama ini menjadi andalan para petani dalam membasmi berbagai serangga penggganggu? Apakah perlu meningkatkan kwantitas dan kwalitas pestisida agar hama bisa ditumpas habis sampai ke telur-telurnya?
     Belakangan baru saya ketahui bahwa pestisida itu sendirilah yang menjadi titik awal permasalahan. Pada saat petani menyemprotkan pestisida, sesungguhnya ia tidak hanya telah membunuh serangga merugikan tapi juga serangga yang menguntungkan para petani.
Perlu kita ketahui, bahwa selain wereng batang, wereng daun, penggerek batang, penggulung daun yang notabene merusak padi sejatinya ada puluhan serangga lain yang tinggal di persawahan. Serangga lain itulah yang menjadi musuh alami hama padi.
     Misalnya saja kumbang kubah. Kumbang kubah yang berwarna merah cerah gemar memakan telur maupun larva wereng. Sementara kumbang kubah berwarna kuning dengan bercak hitam lebih rakus lagi. ia memakan wereng dalam wujud telur, nimfa, larva, maupun wereng yang telah dewasa.
     Jengkerik yang sering kita jumpai di persawahan rupanya juga membantu petani. Selain mendendangkan suara gesekan sayapnya yang merdu di malam hari mereka juga menjadi pemakan hama yang aktif sejak kecil. Jengkerik dewasa dan nimfanya tidak hanya gemar memakan larva kecil dan wereng. Tetapi mereka juga melalap telur penggerek batang, penggulung daun, ulat grayak serta nimfa wereng batang dan wereng daun.
     Bahkan belalang yang selama ini dicap sebagai pemakan daun padi ternyata juga memiliki sifat positif. Belalang berantena panjang yang sering muncul pada tanaman padi siap panen ini, memakan telur walang sangit dan penggerek batang, serta nimfa wereng batang dan wereng daun.
     Selain serangga-serangga yang saya sebutkan di atas, masih banyak serangga lain yang menjadi predator alami hama padi. Di antaranya kumbang tanah, kepinding air, kepinding tanaman, capung jarum,cecopet, semut, tabuhan dan lain-lain.
     Peran serta mereka dalam menekan serangga hama pada tanaman padi tentu tidak bisa dianggap remeh. Karena itu, metode pelestarian serangga predator untuk menaggulangi hama wereng dan serangga merugikan lainnya saya rasa bisa menjadi solusi yang aman. Pertama aman dari segi biaya. Sebab, serangga-serangga pembantu biasanya telah ada secara alami di daerah persawahan. Sehingga tidak perlu pengembang biakan secara massal yang tentunya memerlukan biaya besar. Kedua, pelestariran serangga yang membantu tidak menimbulkan efek jangka panjang pada manusia. Bukan rahasia lagi bahwa penggunaan pestisida pada tanaman dapat ikut terkonsumsi manusia baik secara langsung maupun melalui rantai makanan. Hal ini tentu bisa menimbulkan penyakit berbahaya pada manusia Ketiga, kita tidak perlu merasa khawatir akan terjadi ledakan populasi serangga predator. Karena saat jumlah makanan (hama) terbatas, maka predator tersebut akan cenderung menyerang spesies serangga berguna lainnya.
     Dengan demikian, penggunaan pestisida perlu difikirkan ulang, karena ternyata justru merusak keseimbangan alami antara serangga yang menjadi hama dan serangga yang menjadi predator. Kalaupun terpaksa harus menggunakan racun serangga, tentunya mesti dengan menggunakan takaran tepat, dan dipilih racun yang hanya efektif pada serangga hama dan tidak membunuh serangga predator.
     Terakhir, diperlukan peran aktif dari pihak berwenang dalam memberikan penyuluhan mengenai cara alami membasmi hama pada para petani. Petani pada umumnya tidak mau repot memikirkan serangga mana yang menguntungkan dan mana merugikan. Mereka tidak ambil pusing soal dampak negatif pestisida dan tetek bengek lainnya. Yang mereka tahu, wereng telah membuat kehidupan ekonomi mereka terpuruk dan mesti dibasmi dengan pestisida.
     Namun dengan memberikan wawasan dan pendampingan pada petani, saya yakin lambat laun penggunaan pestisida akan berkurang. Dengan sendirinya, kandungan pestisida dalam makanan pun akan semakin menurun. Jika sudah demikian, tentu manusia yang akan mendapat manfaatnya.Saya rasa itulah yang kita semua harapkan, bukan?


Penulis berdomisili di Ponorogo, Jawa Timur dan dapat dihubungi di This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it .

Belajar Mengenal Zyxomma obtusum, Si Putih yang Cantik
Oleh : Bernadeta Putri Irma D.


Keanekaragaman capung di dunia mencapai lebih dari 5000 spesies yang memiliki bentuk, warna, dan perilaku yang berbeda satu dengan yang lain. Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman hayatinya, termasuk capung. Salah satu capung yang menarik perhatian adalah capung putih. Capung bernama ilmiah Zyxomma obtusum ini warna tubuhnya khas yaitu putih. Si putih cantik ini memiliki perilaku yang berbeda dari capung lain, yaitu aktif pada hari menjelang gelap, biasanya baru keluar antara pukul 16.30-18.00 dan aktifitas terbangnya sangat tinggi. Di perairan tenang dan rimbun ia muncul. Lalu, apa yang membuat ia khas dibandingkan capung lain? Mengapa ia senang keluar pada kondisi gelap?
     Zyxomma obtusum Albarda 1881, capung besar famili Libellulidae yang jantan bermata hijau dan putih, dengan area hitam diatasnya. Selain itu, tubuhnya hampir ditutupi dengan warna putih, kecuali pada ujung sayap dan segmen (bagian) terakhir abdomen (perut) yang berwarna hitam. Moncong depan berwarna kecoklatan, lebih gelap di bagian atas kepala. Kakinya berwarna coklat jika dilihat dari samping, namun dari depan tampak berwarna putih. Segmen abdominal pertama sampai ketiga tampak menggelembung. Ujung abdomennya tersusun sepasang cerci yang berbentuk seperti capit yang umumnya pada capung jantan berukuran pendek dan epiproct yang berbentuk seperti duri, kesatuan bagian tubuh ini dipakai untuk mencengkeram belakang kepala betina saat kawin dan bertelur. Yang betina, memiliki abdomen lebih tebal dan tegap. Warna tubuhnya tidak seputih si jantan. Warna coklat gelap di ujung sayap lebih sedikit dibandingkan si jantan, atau malah tidak punya sama sekali. Capung jantan memang lebih berwarna menarik daripada betinanya.
     Z. obtusum berbeda dengan kelelawar yang hanya aktif pada malam hari, anggapan bahwa ia termasuk hewan crepuscular belum sepenuhnya benar. Crepuscular adalah istilah bagi hewan yang aktif pada waktu matahari terbenam. Capung ini ternyata bisa ditemui dari pukul 05.30 hingga 06.00 pagi. Jadi, capung ini termasuk hewan eocrepuscular yang aktif pada waktu menjelang matahari terbit dan menjelang matahari tenggelam. Susanti (1998) selama penelitian di Kebun Raya Bogor, hanya menjumpai Z. obtusum setelah pukul 18.00. Bahkan seorang teman dibuat kaget karena melihat capung ini pada siang hari diam dan hinggap di dalam gua Jepang, dusun Candi Abang, kecamatan Berbah Sleman, Yogyakarta. Fakta tersebut dapat menjadi bukti untuk menguak perilaku tidak normal capung putih ini. Alasan waktu terbang yang tidak biasa capung ini dapat dipengaruhi oleh intensitas cahaya, suhu, kelembapan, kemampuan organ penglihatannya, dan serangga mangsanya yang aktif di waktu itu.
     Serangga eocrepuscular paling tidak toleran dengan suhu tinggi dan kelembapan rendah. Kemunculan Z. obtusum saat hari menjelang gelap dan saat fajar disebabkan temperatur pada saat itu cenderung berkurang. Kondisi kelembapan udara yang tinggi saat cuaca mendung membuat Z. obtusum tidak muncul, sehingga alasan mengapa capung yang masuk dalam sub ordo Anisoptera ini tidak ditemui pada keadaan gelap, tidak semata-mata karena kondisi cahaya yang kurang.
     Aktif di malam hari juga menjadikan Z. obtusum memiliki manfaat yang tak kalah besarnya dibanding capung lainnya. Capung ini bisa menjadi predator bagi serangga nocturnal, serangga yang aktif pada malam hari, contohnya nyamuk. Beberapa jenis nyamuk dapat menjadi santapan si capung putih, antara lain Aedes yang termasuk crepuscular, Anopheles yang aktivitasnya meningkat pada pukul 19.00-20.00 dan 04.00-05.00 termasuk eocrepuscular, Culex dan Culiseta yang masing-masing termasuk nocturnal. Aedes, Anopheles, dan Culex terkenal sebagai nyamuk pembawa penyakit demam berdarah, malaria, dan kaki gajah. Z. obtusum bertugas layaknya polisi udara yang membantu manusia menekan jumlah penderita penyakit-penyakit yang populer di daerah tropis tersebut. Selain nyamuk, Z. obtusum juga berperan dalam mengendalikan serangga lain agar keseimbangan rantai makanan tetap terjaga.
     Capung eocrepuscular, seperti capung lainnya berperan sebagai predator dimulai saat fase nimfa sampai menjadi capung dewasa. Berbagai jenis capung didesain sebagai serangga yang rakus memakan mangsanya. Nimfa capung dapat memakan jentik-jentik nyamuk, telur kodok, lintah, dan ikan-ikan kecil. Begitu juga capung dewasa dapat bermanfaat pula mengendalikan populasi lalat, kupu-kupu, atau menjadi kanibal bagi capung lainnya. Manfaat capung dapat dirasakan oleh manusia yang memperhatikan lingkungannya. Capung yang dapat menjadi bioindikator perairan bersih ini menyukai tempat tinggal di air atau di dekat perairan yang sesuai dengan hidupnya, hidup anti polutan tinggi. Begitu pula dengan Z. obtusum, capung ini kerap ditemui di perairan tenang, kolam, atau selokan yang rimbun. Kehadirannya ditempat-tempat khusus itu bukan tanpa alasan. Sekali lagi, nyamuk Anopheles dan Culex sebagai makanan si capung putih juga suka tinggal di air yang tenang.
     Sebenarnya, Z. obtusum memiliki daerah jelajah bervariasi dari mulai wilayah pesisir hingga ketinggian 850 m dpl. Selain Indonesia, Z. obtusum juga dapat ditemui di Malaysia, Jepang, Filipina, dan Taiwan, dan Jepang yang hanya ditemukan di Pulau Daito. Capung endemik Asia Tenggara ini juga ditemukan di Pulau Ubin, Singapura. Meski Z. obtusum bukan capung langka, namun keberadaannya saat ini hanya bisa ditemui di lingkungan-lingkungan khusus yang masih rendah pencemaran pada sore menjelang malam hari.
     Meski aktif di hari gelap, aktifitas terbang Z. obtusum sangat tinggi dan cepat. Ia bisa bertahan terbang dengan waktu lama. Kecepatan terbang capung ini dapat dipengaruhi frekuensi kepakan sayapnya dan postur tubuh yang sesuai. Capung ini bisa mengepakkan sayapnya 20-30 per detik.
     Kekuatan kepakan sayap dan aktivitas terbang yang tinggi walau hari gelap dimiliki oleh Z. obtusum karena ia berhasil beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang minim cahaya. Ia beradaptasi hingga pada tingkatan reseptor atau penerima cahaya di mata, sehingga mata facetnya memiliki tingkat sensitivitas yang sangat tinggi. Reseptor-reseptor cahaya yang bergabung membuat penglihatan Z. obtusum meningkat lima kali lipat saat gelap.
     Jika diamati, Z. obtusum memiliki daerah teritorial yang terbatas. Terbukti pada setiap pengamatan, capung ini hanya terbang bolak-balik di atas perairan tenang. Uniknya, titik tempat ia berbalik untuk menuju ke tempat semula selalu sama. Ia menggunakan ketajaman penglihatannya untuk melihat tanda alam, bisa berupa rumput, bambu yang menancap di selokan, atau tanaman air lain yang ada disana.
     Masih banyak hal yang tersembunyi di balik kelincahan capung putih ini. Menjadi hal menarik jika bertemu literatur mengenai perilaku maupun desain tubuh Z. obtusum yang membuat ia berbeda dari capung lainnya, namun berguna bagi kehidupan manusia. Atau bahkan kita harus memulai dari sekarang untuk mencoba meneliti dan mengamati si putih ini yang termasuk serangga endemik nusantara.

Penulis adalah anggota dari Indonesia Dragonfly Society (IDS), saat ini tinggal di kota Malang dan bisa dihubungi melalui email This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it .

Sedang di update