Dalam berbagai pelatihan mengenai pencegahan HIV dan AIDS yang saya ikuti, pertanyaan semacam ini sempat saya dengar beberapa kali: mengapa “gigitan” nyamuk tidak dapat menularkan HIV? Kalimat tanya seperti ini keluar dari mulut penyedia layanan kesehatan yang mungkin penasaran dan butuh persiapan jikalau masyarakat di wilayah kerjanya menanyakan hal yang sama.
Sebelum kita mengetahui jawabannya, ada baiknya jika kita terlebih dahulu mengetahui apa itu HIV? HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan suatu virus penyerang sel limfosit, sel yang berperan dalam sistem kekebalan manusia. Jika kekebalan tubuh manusia diserang hingga luluh lantak, infeksi HIV akan bermanifestasi menjadi AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). Menurut data dari Direktorat Jenderal Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, jumlah kumulatif kasus AIDS yang ditemukan di Indonesia sejak tahun 1987 sampai dengan bulan Juni 2011 ialah sebesar 26.483 kasus.
HIV dapat menular melalui empat macam cairan tubuh: darah, air mani, cairan vagina, dan air susu ibu. Cairan tubuh lainnya tidak menularkan HIV. Penularan HIV dapat terjadi antara lain melalui hubungan seks yang tidak aman, penggunaan satu jarum suntik secara bersama-sama, penularan dari ibu ke anaknya, transfusi darah yang tercemar HIV, maupun kecelakaan kerja. Walaupun mungkin ada perpindahan darah melalui “gigitan” nyamuk, namun saya belum pernah menemukan laporan kasus penularan HIV melalui cara ini. Sesuai dengan namanya, HIV hanya dapat hidup dalam tubuh manusia (human). Dalam tubuh nyamuk, HIV tidak berpengaruh dan berpeluang untuk mati. Hal ini disebabkan karena lingkungan dalam tubuh nyamuk tidak sesuai bagi kelangsungan hidup HIV.
Tentu pertanyaan mengenai penyebaran HIV lewat nyamuk tidak berhenti sampai di sini saja. Beberapa pertanyaan lagi dapat muncul sebagai lanjutan. Misalnya: bagaimana jika ada HIV yang terkandung dalam sisa darah yang menempel pada mulut nyamuk? Apabila nyamuk tersebut menusukkan mulutnya ke orang lain, apakah bisa terjadi penularan HIV?
Pertanyaan-pertanyaan di atas dapat terjawab dengan fakta bahwa penularan HIV tidak terjadi semudah penularan penyakit infeksi lain, seperti hepatitis B atau demam berdarah dengue. Untuk terjadi penularan HIV dari satu manusia ke manusia lain, harus ada jalan keluar virus dari orang yang menularkan (exit), virus harus tahan terhadap dunia luar dan tidak mati (sustain), jumlah virus cukup banyak (sufficient), dan harus ada jalan masuk virus pada tubuh orang yang akan tertular (entry).
Memang saat nyamuk “menggigit” pengidap HIV, terbentuk suatu jalan keluar (exit) bagi virus. Lalu jika nyamuk tersebut “menggigit” orang yang lain, terbentuklah suatu jalan masuk (entry). Namun jumlah virus yang menempel pada mulut nyamuk tentu sangat sedikit jumlahnya, kalau tidak dapat dikatakan tidak ada, karena darah yang menempel pun kuantitasnya sedikit sekali. Hal ini menyebabkan faktor “sufficient” yang dibutuhkan untuk terjadinya penularan HIV tidak dapat terpenuhi.
Dari analisa di atas, dapat disimpulkan bahwa masyarakat tidak perlu terlalu takut dengan penularan HIV jika berhati-hati, apalagi sampai mengkhawatirkan adanya penularan HIV melalui “gigitan” nyamuk. Isu-isu dan informasi-informasi yang tidak benar mengenai pengaruh nyamuk dalam penularan HIV dapat menimbulkan kegelisahan masyarakat. Ketidaktahuan masyarakat tentang betapa kecilnya peluang nyamuk menularkan HIV mungkin telah memicu timbulnya stigma kepada ODHA (Orang dengan HIV/AIDS). Pada beberapa kasus, stigma ini bahkan menjadi tindakan diskriminatif yang sangat merugikan ODHA dan keluarganya, misalnya pengucilan atau pengusiran.
Padahal ODHA dapat tetap hidup bersama dan bersosialisasi dengan masyarakat sekitar tanpa harus dianggap sebagai sumber penularan yang menakutkan. Di sinilah edukasi memiliki peranan yang penting. Informasi-informasi yang mungkin terlihat sepele dapat memberikan pengaruh positif dalam kehidupan bermasyarakat apabila disosialisasikan dengan baik.
Oleh : Tareq B. Finalis Lomba Artikel Populer “All About Insect” 2012.
Penulis adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, bisa dihubungi melalui email
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
| < Prev |
|---|