Masih ingatkah Anda dampak letusan Gunung Merapi? Ribuan mayat sapi dan kerbau terapung di sungai, hingga serbuan ribuan Lucilia pun tak terelakkan, tidak hanya pada bangkai, tetapi juga puing-puing serta pepohonan. Upaya penyemprotan yang dilakukan berkali-kali oleh BBTKL-PPM (Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular) juga tidak banyak berpengaruh. Hingga pembakaran bangkai dilakukan oleh berbagai lembaga dan sukarelawan.
Serbuan Lucilia cukup meresahkan. Di Padang, sejak tahun 2007 ribuan ekor Lucilia sudah menyerbu penduduk Kecamatan Payakumbuh Timur. Demikan juga di Kecamatan Tegalwaru Karawang. Bahkan, di Propinsi Jambi, pada tahun 2011, Lucilia menyerang empat desa sekaligus, Desa Bernai, Desa Bernai Dalam, Desa Sungai Baung dan Desa Sungai Abang. Dan di Ciamis Desember 2011, diare telah merenggut tiga nyawa.
Tidak hanya di Indonesia, Lucilia cukup legendaris di dunia, terbukti dengan adanya lebih dari 100 nama disematkan oleh para ilmuwan sejak tahun 1826 hingga 1988 mulai dari Musca nobilis (Meigen) hingga L. frontalis (Brauer & Bergenstamm). Di luar negeri, Lucilia tercatat menyerang domba di Australia dan Inggris. Berdasar identifikasi larva oleh Dr M.S.Mossadegh, dari Shahid Chamran University, Ahwaz Iran. Lucilia telah mampu menularkan miasis pada pasien sehat. Miasis adalah infeksi yang disebabkan serangan lalat. Kasus ini adalah yang pertama di dunia, dan sangat berbahaya.
Mengapa tidak dimusnahkan saja?
Selalu ada rotasi yang membentuk keseimbangan, antara manfaat dan dampak yang ditimbulkan, tidak hanya berhenti pada perputaran rantai makanan antara predator dan produsen. Lucilia juga memiliki banyak manfaat . Dan manusia tak bisa memungkiri jasa itu
1. Lucy Si Pemberi Jejak
Karena siklus hidup yang selalu sama dalam habitat tertentu. Dengan sifatnya sebagai first predator pada mayat, maka keberadaan larva Lucilia yang berbentuk kerucut keabu-abuan dapat memberikan petunjuk mengenai umur minimun mayat. Jika didapatkan telur Lucilia yang telah menetas menjadi instar atau belatung berusia lima hari, maka diperkirakan usia minimum kematian adalah lima hari. Sedang kematian yang sesungguhnya bisa enam atau tujuh hari.
Tidak hanya itu, Lucilia yang seluruh siklus reproduksinya menghasilkan 130-172 telur ini, menyukai daerah luka, dengan sifat itu, maka koloni Lucilia tertua juga sering dijadikan petunjuk cara kematian mayat. Misalnya ketika didapatkan umur koloni Lucilia tertua pada daerah dada dengan perbedaan yang signifikan dari daerah lain, maka diduga sebelum kematian terdapat luka di daerah tersebut.
2. Lucy Sang Penyembuh Luka
Terapi Lucilia bisa menjadi alternatif bagi penderita penyakit gula dengan luka menahun, pada penderita alergi terhadap antibiotik, juga penderita penyakit arteri yang terganggu sirkulasi darah pada tangan dan kaki.
Dr Lawrence Eron dari Kaiser Hospital dan University of Hawaii di Honolulu, seperti dikutip Reuters, Senin (26/9/2011). Telah berhasil melakukan debridement (mengangkat jaringan terinfeksi atau mati) menggunakan belatung Lucilia Dr Eron mengurung sekitar 50-100 belatung Lucilia dalam jala nilon lalu mengikatnya supaya tidak keluar, kemudian meletakannya pada luka selama dua hari. Prosedur yang sama diulangi hingga lima kali. Dari 37 pasien yang diuji, 21 pasien sembuh secara memuaskan, jaringan mati terhapus total, terbentuk jaringan baru yang kuat, sedang luka lebih dari ¾ bagian telah menutup .
Peran Lucilia adalah memakan jaringan mati hingga bersih, kemudian mengeluarkan agregat yang mampu merangsang timbulnya jaringan baru yang lebih kuat. Menakjubkan!
3. Lucilia sebagai Mesin Pencetak Uang
Selain berbagai kegunaan dalam disiplin ilmu kedokteran, Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Mulyoagung Kecamatan Dau, Kabupaten Malang telah berhasil membuktikan kemampuan Lucilia mencetak uang. Belatung-belatung Lucilia diambil dan dimasukkan ke dalam kolam sebagai makanan ikan Nila, Lele dan Gurame. Hasilnya? Ikan-ikan menjadi kaya protein dan lebih lezat.
Masyarakat yang sebelumnya memprotes kehadiran TPAS (Tempat Pembuangan Akhir Sampah), berbalik berharap TPAS bisa menampung sampah-sampah dari luar. Disamping itu TPAS Mulyoagung, menjadi bebas Lucilia tampak bersih, tertata dan bau menyengat pun jauh berkurang.
Bagaimana caranya? Dengan memutus mata rantai daur hidup Lucilia
Diperlukan kecepatan pengumpulan belatung. Dalam ilmu entomologi belatung disebut larva, yang perkembangannya (pada suhu 27°C) melewati 3 masa instar larva, masa instar pertama 31 jam, masa instar kedua 12 jam dan masa instar ketiga 40 jam total masa instar kurang lebih 4 hingga 5 hari tergantung suhu. Sehingga pengambilan belatung harus diambil pada masa ini (maksimal 5 hari) karena setelah melewati masa larva akan turun ke tanah menjadi kepompong selama 6-14 hari. Dan kemudian berubah menjadi Lucilia dewasa. Jadi jika terlambat pengambilan larva, maka Lucilia pun akan beterbangan.
Larva-larva tersebut diambil dan dimasukkan ke dalam kolam sebagai makanan ikan Nila, Lele dan Gurame. Hasilnya? Ikan-ikan menjadi kaya protein dan lebih lezat.
Menjijikkan! Mengapa harus belatung Lucilia sebagai pakan ikan? Inilah alasannya :
- Ramah lingkungan dan penghematan. Memanfaatkan belatung Lucilia, berarti mengurangi pemakaian dan dampak residu pestisida, sekaligus penghematan.
- Belatung Lucilia kaya protein dan tahan jamur. Sudah bukan rahasia lagi belatung mempunyai kadar protein tinggi, jika ampas tahu mempunyai kandungan protein 15%, sedangkan PKM (Palem Korneal Meal) 18%. Maka belatung Lucilia mempunyai kandungan protein 42%
- Anti mikroba atau jamur. Belatung memiliki kandungan anti mikroba dan anti jamur, sehingga jika dikonsumsi ikan, ikan tsb akan tahan terhadap penyakit bacterial dan jamur.
Berdasar penelitian oleh Universitas Colorado di Amerika (Republika Online). Lalat mempunyai bateriofag. Bakteriofag adalah virus yang menyerang virus atau bakteri lain. Sedang dilakukan penelitian terhadap bateriofag ini, untuk mengatasi bakteri yang telah resisten (kebal) dengan antibiotik yang telah ada.
Mengubah Wabah Menjadi Anugerah
Sebuah lapangan pekerjaan baru akan terbuka lebar, jika apa yang diterapkan pada TPAS Malang, mampu diterapkan pada TPAS seluruh Indonesia, termasuk juga pada peternakan sumber wabah Lucilia.
Tentu saja untuk Peternakan harus diadakan penelitian lebih lanjut. Beberapa konsep harus dimodifikasi, misalnya Lucilia dirangsang untuk meletakkan telur tidak pada kotoran, melainkan pada media kultur buatan misalnya fermentasi PKM atau kultur lain. Karena bagaimanapun kotoran adalah kotoran.
Selalu ada sisi baik dan sisi buruk dalam kehidupan, selalu ada obat bagi setiap penyakit, tetapi setiap pergeseran keseimbangan menimbulkan masalah baru.
Pertanyaannya: Ketika akhirnya manusia berhasil mengurangi populsi Lucilia dengan memutus siklus daur hidup secara konsisten, apakah Lucilia juga akan menghilang? Wallahu alam.
Oleh : Aisyah Fad. Juara 1 Lomba penulisan artikel populer "All About Insect" 2012.
Penulis bisa dihubungi di
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
| < Prev | Next > |
|---|