Secara umum penyakit dikelompokkan menjadi tiga, yakni penyakit yang bersumber dari binatang, penyakit yang menular langsung antar manusia, dan menyakit tidak menular. Dalam konteks organisme sebagai agen penyakit, diidentifikasi ada ribuan jenis spesies yang mampu menularkan penyakit ke manusia.
Tak sedikit spesies yang mampu menjadi penyebab
zoonosis (penyakit yang ditularkan secara alamiah antara manusia dan hewan domestik atau satwa liar), hidup di sekitar kita, seperti nyamuk, tikus, kecoa, lalat, cacing, kucing, anjing, kera, dan semut.
Binatang yang hidup bebas di alam berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem dengan peran yang seringkali tidak kita sadari. Misalnya untuk mengontrol populasi serangga. Namun bila hewan-hewan di alam ini mengganggu, maka ia dikategorikan sebagai hama.
Menurut pakar Entomologi Kesehatan Dr.Upik Kusumawati Hadi, M.S, hama adalah binatang pengganggu yang tidak berada di habitat semestinya dan merugikan manusia, termasuk juga menyebabkan penyakit.
Sebagai negara beriklim tropis, berbagai jenis penyakit yang bersumber dari binatang umum terjadi di Indonesia. Sebut saja DBD, chikungunya, filariasis (kaki gajah), malaria, leptospiroris, pes, rabies, dan cacingan.
"Dari segi fatalitasnya, nyamuk merupakan hama pembawa virus yang paling berbahaya," kata dr.Daeng M.Faqih, Ketua Bidang Kesejahteraan Anggota Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia.
Agar tidak menimbulkan risiko yang berbahaya, tentu hewan pembawa penyakit itu harus dikendalikan. "Rasanya tak mungkin memusnahkan semua hewan-hewan penyebab penyakit. Yang bisa kita lakukan adalah mengontrol populasi dan melakukan pencegahan agar binatang tersebut tidak berada di lingkungan kita," tutur Upik.
Upik menuturkan, penggunaan bahan insektisida yang berbahaya bagi manusia dan dapat memusnahkan segala jenis binatang, termasuk pemangsa hama, harus dikurangi. "Utamakan cara-cara non pestisida, seperti sanitasi dan penutupan akses hama," katanya dalam acara lokakarya Pengendalian Hama Terpadu Berwawasan Lingkungan yang diadakan oleh Rentokil Indonesia.
Untuk mengendalikan nyamuk, masyarakat hendaknya tidak berlebihan dalam menggunakan obat pembasmi nyamuk. Penelitian menunjukkan nyamuk di sejumlah wilayah di Jabodetabek resisten terhadap obat pembasmi hama. "Menyemprot nyamuk cukup setinggi satu meter, tak perlu seluruh ruangan," saran Yuary Farradia, Direktur PT Rentokil Indonesia.
Farra menjelaskan, upaya menghambat perkembangbiakan hama bisa dilakukan dengan mempelajari kebiasaan binatang tertentu. Misalnya untuk nyamuk yang suka bersarang di pakaian yang tergantung atau belakang lemari dan meja, ia menyarankan agar penyemprotan dilakukan di lokasi tersebut.
Menurut Upik, penggunaan pestisida untuk memberantas hama sebaiknya dilakukan hanya saat diperlukan, yaitu saat terjadi ledakan populasi. "Setelah mereda, gunakan cara-cara alternatif non pestisida, misalnya dengan menjaga kebersihan dan sanitasi," ujarnya.
Untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk, pastikan tak ada genangan air di sekitar rumah karena jentik nyamuk Aedes aegypti menyukai air yang bersih untuk menetas. Selain itu, jangan biasakan menggantung pakaian terlalu lama karena bisa menjadi sarang untuk nyamuk beristirahat.
Sementara itu agar tikus tidak masuk ke dalam rumah, kita bisa mencegahnya dengan cara membuat kontruksi bangunan yang tidak mudah ditembus tikus. Misalnya dengan memperkecil lubang-lubang pembuangan yang sering dijadikan akses masuknya tikus ke rumah.
"Indra penglihatan tikus tak terlalu baik, itu sebabnya ia selalu berjalan merapat di tembok. Oleh karena itu jika ingin memberi racun tikus, sebaiknya diletakkan di dekat tembok. Selain itu, identifikasi juga dari mana asal datangnya tikus," saran Farra.
Biasakan pula untuk tidak menumpuk makanan di dapur dan menjaga kebersihan agar tidak ada makanan yang tercecer. "Ceceran makanan ini akan mengundang tikus, lalat, semut, atau kecoa," kata Upik.
Source : kompas.com
| < Prev | Next > |
|---|