Lalat, menjijikan tapi berguna

Lalat dimata manusia pada umumnya memiliki reputasi yang menjijikan dan cukup buruk, yang dimana banyak dikenal sebagai salah satu penyebab gagal panen, biang penyebar penyakit, diare sampai penyakit tidur. Serangga yang hanya memiliki sepasang sayap ini memang memiliki sejarah yang cukup panjang dengan manusia.
Tercatat sejak 245 juta tahun yang lalu berada di bumi ini, serangga dari ordo ini jugatercatat sebagai penyebab penyakin plague pada dinosaurus dan yang dipercaya sebagai organisme multisel yang sedikit banyak mempengaruhi evolusi  manusia. Lalat, dan juga nyamuk, diklasifikasikan sebagai ordo dipteral, merupakan serangga yang cukup unik, dikarenakan serangga pada kategori ordo ini hanya memiliki 1 pasang sayap yg dimana pada umumnya serangga yg lain memiliki 2 pasang sayap. Nama diptera pun diambil dari bahasa yunani yang berarti 2 sayap, Di = dua dan ptera = sayap. Nah kalau serangga pada ordo diptera ini hanya memiliki 1 pasang sayap, dimanakah 1 pasang sayap lain nya yg seperti dimiliki serangga2 yg lain pada umumnya? sayap belakang serangga2 pada ordo diptera ini berkembang menjadi alat penyeimbang yang biasa disebut halter, yg berguna sebagai alat penyeimbang sewaktu terbang dan juga sebagai alat peredam getaran yg terjadi pada sayap sewaktu terbang.

Walaupun sayap dari ordo diptera ini hanya sepasang, tetapi kemampuan terbang dan manufer nya mungkin tidak kalah atau pun melebihi dari serangga2 yang memiliki 2 pasang sayap.
Serangga dari ordo diptera ini juga memiliki frequensi beat tercepat dari serangga lainnya.
Midge atau di Indonesia dikenal sebagai agas memegang rekor sekitar 1,000 kepak sayap per detik dan serangga jantan dari jenis nyamuk memiliki antena yang indah dan memiliki banyak sensor untuk menangkap getaran dari sayap lawan jenis-nya.
Seperti laiknya serangga yg lain, order diptera ini juga memiliki 6 buah tungkai. Serangga dari ordo diptera ini memiliki metamorfosa sempurna dari fase telur, larva, pupa dan adult atau imago.

Keunikan Serangga: dapat hidup dalam berbagai jenis kondisi.
Lalat merupakan serangga yang cukup sukses beradaptasi di dunia ini, tercatat beberapa larva dari jenis lalat ephydrid dari family Ephydridae atau dikenal sebagai shore flies memiliki habitat yang cukup unik, sebagai contoh lalat Ephydra brucei dapat hidup di air panas dan geyser yang dimana suhu nya mencapai 44.5oC. Lalat Helaeomyia petrolei dapat hidup di minyak mentah dan brine fly, Ephydra cinera dapat hidup di larutan garam berkonsentrasi tinggi. Sedangkan lalat kecil yang sering disebut scuttle fly dari family Phoridae, Megaselia scataris dapat hidup di semir sepatu, cat emulsi sampai di paru2 manusia.

Daur ulang.
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa keberhasilan dari sebuah ekosistem di dunia ini adalah terdapatnya produser, konsumen dan pengurai yang seimbang. Pada suatu system ekosistem biasanya hanya 10% dari bahan organic yang di sintesa oleh tumbuh2an, atau produsen, yang biasanya digunakan oleh konsumen, sedangkan sisanya yang 90%, dapat berupa sekresi atau kotoran dari konsumen, bangkai hewan, buah-buahan yang tidak terkonsumsi atau daun-daun yang rontok, sangat tergantung pada binatang/tumbuhan pengurai agar rantai makanan terus berlangsung ke tingkat produser lagi. Buah-buahan yang tidak termakan oleh konsumen, akan diurai oleh ragi dan beberapa jenis serangga, salah satu nya adalah lalat buah, family drosophila. Sebagai pengurai, lalat memiliki peranan yang sangat penting sebagai pengurai kotoran dan bangkai hewan. Sebagai contoh sebuah bangkai seekor kelinci, dapat ditemukan 100 spesies arthropod dari 16 ordo dan 48 family. Fungsi pengurai serangga disini memang mungkin tidak sebagai pengurai sejati seperti jamur dan bakteri, tetapi memang berfungsi sebagai ‘jembatan’ rantai makanan untuk jamur dan bakteri untuk diurai lebih lanjut. Aksi dari larva-larva lalat sebagai contohnya adalah membuat bangkai menjadi sebuah cairan yang nantinya akan diurai kembali oleh mikroorganisme.
Fungsi dari larva lalat sebagai decomposer juga digunakan oleh pihak kepolisian untuk menganalisa waktu dan lokasi kejadian dari kasus pembunuhan. Studi ini dikenal sebagai Forensik Entomologi.

Surgical Maggots.
Maggot atau larva dari lalat, atau yang biasa kita sebut belatung, biasanya dianggap sesuatu yang menjijikan atau jorok. Oleh Ronald Sherman dari Universitas California, ternyata belatung yang menjijikan ini dipakai sebagai pembersih luka yang dimana makanan dari belatung pada umumnya adalah memakan dagingyang sudah busuk dan bukan daging yang masih 'hidup'. Jenis lalat yg digunakan adalah lalat hijau dari family Calliphoridae, dan yang banyak digunakan adalah green bottle fly, Phaenicia sericata. Tercatat bahwa larva dari lalat tersebut dalam melakukan aksinya ‘membersihkan’ luka juga mengeluarkan cairan yang sifatnya sebagai antiseptic yang dipercaya dapat mencegah luka tersebut terinfeksi kuman yang merugikan dan mempercepat sembuhnya luka. Ternyata praktek membersihkan luka dengan menggunakan larva dari sudah dikenal oleh suku Mayan Indian dan Aborigin sejak jaman dahulu kala. Praktek ini juga digunakan pada jaman renaissance, Napoleon dan pada perang dunia I dan II.

Lalat sahabat petani.
Terlepas dari reputasi buruk lalat, ternyata Lalat tidak selalu merupakan serangga yang merugikan petani, ada beberapa lalat yang juga disukain keberadaan nya oleh petani, yang tidak lain fungsinya sebagai predator, atau pemakan serangga (hama) lain nya atau juga sebagai pollinator.
Serangga predator ini baik fase larvae, bombyliidae dan syrphidae, atau juga sewaktu dewasa, asilidae dan empididae. Polinator tidak hanya dilakukan oleh lebah yang dikenal oleh masyarakat umumnya, ada beberapa jenis lalat pun dikenal sebagai polinator yang aktif dan tidak kalah pentingnya dari keberadaan lebah. Jenis lalat ini tentunya disukai oleh petani buah serangga dari family bombyliidae dan syrphidae, tidak hanya sebagai predator pada fase larva, tetapi juga berfungsi sebagai polinator pada fase dewasa. Serangga dari family ini biasa dikenal sebagai bee fly dan hover fly. Serangga predator seperti dari family asilidae memiliki proboscis yang pendek dan kuat, dan digunakan sebagai stab dan menggeluarkan ludah/salive yang mengandung neurotoxic untuk menaklukan mangsanya dan meng’urai’ mangsanya dengan enzim proteolytic, yang dimana kemudian si lalat menghisap hasil uraian dari enzim tersebut melalui mulut yang sudah dimodifikasi, yang biasa disebut proboscis.

Bingkisan untuk calon mempelai.
Tidak kalah dengan manusia, dunia pejantan lalat pun mengetahui cara bagaimana menarik betina untuk mendapatkan pasangan idaman nya.Tercatat, lalat dari family empididae dari daratan eropa, Hilara maura, mempunyai cara unik yaitu membuat sebuah bingkisan dari sutra untuk menarik lawan jenisnya. Semakin besar bungkus nya, semakin besar pula kesempatan untuk mendapatkan lawan jenis. Bingkisan tersebut biasanya berisikan bangkai dari serangga lain yang bisa dinikmati oleh lalat betina selagi si jantan melakukan 'bisnis' nya. Tetapi, dasar laki-laki, kalau hari sedang apes, sedangkan nafsu sedang tinggi-tinggi nya dan sudah tidak dapat ditunda lagi, lalat jantan ini tentunya tidak kekurangan akal, mereka bisa membuat bingkisan ‘kosong’ atau tidak berisikan apa2, alias hanya bungkus saja, tetapi karena sudah terlanjur biasanya si betina hanya pasrah saja. Ada beberapa catatan pun bahwa bingkisan tersebut dapat dipakai oleh si jantan lagi untuk menarik betina yang lain nya.

Bingkisan untuk lawan jenis banyak disebut oleh pihak peneliti adalah nuptial gift. Tercatat ada beberapa jenis species lalat dari family asilidae dan empididae yang sering ditemukan membawa bingkisan untuk menarik lawan jenis nya. Order diptera ini juga diklasifikasikan dari tingkah laku atau pola makanan nya, secara umum diklasifikasikan sebagai berikut:

Biting flies: terutama jantan betina penghisap darah.

  • Culicidae (nyamuk) – penyebab penyakin malaria, encephalitis, demam berdarah, filariasis, dan penyakit lainnya.
  • Tabanidae (horse flies / deer flies) – penyebab penyakit tularemia, loiasis, trypanosomiasis, dan penyakit lainnya.
  • Simulidae (black flies) – penyebab penyakit onchoceriasis pada manusia dan infeksi leucocytozoon pada hewan unggas.
  • Psychodidae (moth flies) – penyebab penyakit leishmaniasis, sand fly fever, and penyebab penyakit lainnya.
  • Ceratopogonidae (agas) – di Indonesia dikenal sebagai agas dan menimbulkan gigitan yang sakit dan sering dihubungkan dengan penyebaran beberapa protozoa dan penyakit pathogen pada manusia dan beberapa binatang
  • Muscidae (lalat rumah) – Lalat yang sering ditemui di sekitar kita. Beberapa species dapat mengigit, tetapi pada umumnya merupakan binatang pengurai. Penyakit seperti disentri, dan kolera disebabkan karena lingkungan hidup dari lalat ini sebagai binatang pengurai.

Herbivora: Larva pemakan tanaman.

  • Cecidomyiidae (gall midges) – menimbulkan gall pada tanaman. Beberapa jenis dari family ini merupakai pengurai, predator dan parasit
  • Tephritidae (lalat buah) – Banyak spesies dari family ini merupakan hama untuk petani.
  • Agromyzidae – Hampri semua larva dari family ini merupakan pemakan daun2an, beberapa species merupakan pemakan akar dari tanaman.
  • Anthomyiidae – Beberapa spesies larva dari family ini adalah pemakan akar dan biji2an.

Scavengers: Larva pemakan kotoran, daging atau sampah organic lainnya

  • Drosophilidae (pomace flies) – larva pemakan buah2an yang masak atau membusuk.
  • Tipulidae (crane flies) – larva hidup dan makan di tanah, lumpur atau lumut
  • Calliphoridae (blow flies) – larva hidup dan makan di sampah dan daging yang membusuk
  • Sarcophagidae (flesh flies) – larva biasanya hidup dan makan di daging yang membusuk. Beberapa species dapat menyebabkan penyakit myiasis pada manusia.

Predators: lalat dewasa atau larva yang memakan serangga lain nya

  • Asilidae (robber flies) – merupakan predator dan memakan serangga lainnya.
  • Bombyliidae (bee flies) – predator pada fase larva, menyerupai bentuk seperti lebah pada fase dewasa. • Empididae (dance flies) – predator pada fase dewasa.
  • Syrphidae (flower flies) – beberapa larva merupakan pemakan aphid atau kudu daun. Menyerupai bentuk lebah atau wasp pada fase dewasa.

Parasites: larva merupakan parasit untuk beberapa binatang.

  • Tachinidae – Parasit untuk beberapa jenis serangga lainnya. Beberapa spesies merupakan biocontrol yang penting yang digunaan oleh manusia.
  • Sciomyzidae (marsh flies) – larva hidup di siput dan lintah.
  • Oestridae (bot flies / warble flies) – larva sebagai endo-parasit di mamalia dan manusia.

Hippoboscidae (louse flies) – lalat dewasa dari jenis ini merupakan penghisap darah dan hidup sebagai parasit di burung dan mamalia.


Serangga jantan dari ordo Diptera yang memiliki antenna yang indah untuk menangkap getaran sayap dari lawan jenis nya. Photo oleh F.Widjaja, Kaliurang, Jogjakarta, Juli 2008

Hydrellia sp, Family Ephyridridae atau shore flies. Larva dari family ini hidup di air, terutama air payau atau malah dapat hidup di air yang memiliki konsentrasi garam cukup tinggi atau air yang bersifat basa. Larva lalat dari family ini yang dapat ditemukan di minyak mentah. Foto oleh F.Widjaja, Southampton, UK May 2009

Helina sp, Family Muscidae, lalat dari jenis ini dapat ditemukan dimana saja, salah satunya adalah Musca domestica atau yang biasa hidup berdampingan dengan manusia. Lalat jenis ini, dikarenakan dengan gaya hidupnya sebagai pengurai kotoran dan sisa2 makanan, dapat menimbulkan berbagai penyakit mulai dari disentri, tipes, anthrax dsb. Foto oleh F.Widjaja, Southampton UK Juli 2009

Family Lauxaniidae, larva dari jenis lalat ini sebagian besar hidup sebagai pengurai tanaman. Foto oleh F.Widjaja Southampton UK, May 2008

cf Damalis sp Family Asilidae, lalat predator yang gemar memangsa serangga lain. Lalat dari jenis ini merupakan predator pada fase dewasa dan larva hidup di tanah atau kayu yang sudah lapuk dan terkadang memakan larva serangga lain nya. Foto oleh F.Widjaja, Ubud Bali, Desember 2010

Syrphus balteatus, FamilySyrphidae (flower flies) – beberapa larva merupakan pemakan aphid atau kudu daun. Menyerupai bentuk lebah atau wasp pada fase dewasa. Foto oleh F.Widjaja, Southampton UK, May 2008




Family Bombyliidae atau lalat lebah – predator pada fase larva, menyerupai bentuk seperti lebah pada fase dewasa. Foto oleh F. Widjaja, Southampton UK, April 2008

Family Chloropidae: lalat dari family ini merupakan lalat kecil dan beberapa species memiliki warna kuning yang menyolok dan hitam. Lalat jenis ini dapat sering ditemukan di padang rumput. Sebagian besar larva dari family ini makan dari rerumputan dan merupakan hama untuk petani cereal, sebagian lagi hidup sebagai pemakan bangkai/scavenger, parasit dan predator. Foto oleh F.Widjaja, Ubud Bali, Desember 2010

Female Empis femorata, Family Empididae (dance flies) – predator pada fase dewasa. Foto oleh F.Widjaja, Southampton UK, May 2008

Family Diopsidae, atau stalk-eyed. Lalat jenis ini banyak hidup di daerah tropis, dan memiliki tangkai panjang pada matanya. Mereka banyak ditemui di hutan tropis yang memiliki kelembaban cukup tinggi dan makan jamur dan beberapa bakteri dari tanaman yang membusuk. Studi mengatakan bahwa semakin panjang tangkai mata dari lalat jantan semakin mudah lalat tersebut mendapatkan pasangan lawan jenis nya, karena tangkai mata yang panjang menandakan lalat jantan yang unggul.Foto F.Widjaja,Kaliurang, Jogja, Juli 2008

Family Sepsidae, lalat dari jenis ini hidup dan makan dari kotoran dan beberapa material yang membusuk. Foto oleh F.Widjaja, Gn Kelimutu Flores, Juli 2011

cf Bactrocera sp, Family Tephritidae atau lalat buah, Lalat dewasa dari family ini banyak ditemukan di bunga atau tanaman. Larva dari lalat-lalat ini makan tumbuhan beberapa jenis dari lalat ini merupakan hama yang serius untuk petani buah. Foto oleh F.Widjaja, Ubud Bali, Desember 2010